Rangkuman Bab 5 : Cakap dan Etis Bermedia
Raisha Putri Sakinah (30) 8E
Pendahuluan
Di era digital saat ini, kemampuan seseorang berinteraksi dengan media digital bukan lagi sekadar nilai tambah, melainkan kebutuhan hidup sehari-hari. Mulai dari mencari informasi, berkomunikasi, bekerja, belajar, hingga berpartisipasi dalam ruang publik, semua aktivitas itu kerap terjadi di lingkungan digital. Karena itu muncul dua tuntutan utama: cakap bermedia digital (digital literacy/kompetensi digital) dan etika bermedia digital (tata cara, sikap, dan tanggung jawab moral saat berinteraksi di dunia maya). Peta konsep yang kamu kirim menggabungkan aspek teknis (Bermedia Digital → Budaya & Cakap Bermedia Digital) dan aspek sosial-emosional (Toleransi & Empati Berbudaya Digital → Toleransi, Empati, Menjaga Rekam Jejak). Rangkuman ini menguraikan setiap elemen itu secara mendalam — definisi, alasan pentingnya, tantangan nyata, contoh kasus, dan rekomendasi praktis agar individu (pelajar, pekerja, orang tua, pendidik) bisa menjadi pengguna digital yang cakap sekaligus etis.
Seiring berjalannya waktu dan pesatnya perkembangan teknologi baru serta lebih inovatif dalam menggunakannya. Tahukah kalian informasi, media digital melaju terus berkembang dan ada cara digital dengan bijak? apa yang dimaksud media digital itu? Bagaimanakah kita bermedia Jawaban pertanyaan tersebut di atas, akan dibahas pada bab ini secara detail. Simak penjelasan berikut!
Pengertian: Apa itu Bermedia Digital?
Ada dua kata mendasar dalam istilah bermedia digital, yakni media dan digital. Media merupakan perantara (medium), alat ataupun sarana. Seperti yang dikatakan Chairunisa pada lamannya https:// dallysocial.id/post/media (25 Oktober 2022), media adalah alat yang mendukung kebutuhan dan kegiatan, membuatnya lebih mudah bagi setiap orang yang menggunakannya. Lebih khusus lagi, konsep media dalam proses belajar cenderung didefinisikan sebagai alat grafis, fotografi, atau elektronik untuk memperoleh, memproses, dan menata ulang informasi visual atau verbal. Digital dapat diartikan sebagai teknologi elektronik. Dikutip dari laman website romeltea. com (https://romeltea.com/pengertian-digital-secara-bahasa-dan- stiah/) yang diposting oleh Asep Syamsul M. Romlipada 4 Agustus 2020, istilah atau kata digital identik dengan internet,
“Bermedia digital” adalah aktivitas menggunakan perangkat, aplikasi, platform, dan layanan berbasis teknologi informasi untuk menghasilkan, mengakses, menyebarkan, dan berinteraksi dengan informasi atau konten. Aktivitas ini meliputi membaca artikel online, menonton video, berkomunikasi lewat pesan instan, membuat posting media sosial, mengikuti kursus daring, hingga menggunakan layanan perbankan digital.
Poin penting: bermedia digital bukan hanya soal perangkat keras atau perangkat lunak. Ia juga mencakup keterampilan kognitif (bagaimana memilih informasi yang dapat dipercaya), keterampilan teknis (mengoperasikan perangkat dan aplikasi), serta keterampilan sosial-emosional (berkomunikasi sopan, empati, toleransi). Seseorang yang "bermedia digital" idealnya mampu memanfaatkan teknologi untuk tujuan positif sekaligus menyadari konsekuensi perilaku digitalnya.
Budaya Bermedia Digital
Budaya bermedia digital adalah norma, nilai, kebiasaan, dan praktik yang berkembang di lingkungan digital. Budaya ini membentuk cara individu dan kelompok bertindak, berkomunikasi, dan menilai tindakan di dunia maya. Beberapa elemen kunci budaya bermedia digital:
Norma komunikasi
Cara menulis pesan, menyampaikan kritik, memberi pujian, hingga aturan tidak tertulis tentang waktu yang tepat menghubungi orang lain. Misalnya, di lingkungan profesional, pesan formal lebih dihargai; di grup teman, bahasa santai bisa diterima.
Aturan berbagi informasi
Apa yang pantas dibagikan (mis. informasi publik, berita yang sudah diverifikasi) dan apa yang tidak (mis. data pribadi, gambar sensitif orang lain tanpa izin).
Sikap terhadap keanekaragaman
Menghormati perbedaan suku, agama, pendapat, dan gaya hidup. Budaya bermedia digital yang sehat menolak ujaran kebencian (hate speech), diskriminasi, dan perundungan.
Etika penggunaan data
Penghargaan terhadap privasi, persetujuan penggunaan data, dan tanggung jawab terhadap keamanan informasi yang dimiliki atau diakses.
Kebiasaan verifikasi
Cek fakta sebelum berbagi, memahami sumber, dan skeptis terhadap konten yang sengaja memprovokasi.
Budaya ini terbentuk secara dinamis: dipengaruhi oleh pendidikan, kebijakan platform, hukum, serta interaksi sosial antar pengguna. Membangun budaya bermedia digital yang sehat memerlukan pendidikan (formal & informal), contoh dari figur publik, dan peraturan yang jelas.
Cakap Bermedia Digital (Digital Literacy)
Cakap bermedia digital adalah kumpulan keterampilan yang memungkinkan seseorang menggunakan media digital secara efektif, aman, dan kritis. Cakap di sini meliputi beberapa dimensi:
1. Akses dan penggunaan teknologi
Kemampuan dasar mengoperasikan perangkat (smartphone, komputer), mengelola akun, menggunakan aplikasi produktivitas, memperbarui perangkat lunak, dan memahami pengaturan privasi.
2. Literasi informasi
Mencakup kemampuan:
Menemukan informasi yang relevan.
Mengevaluasi kredibilitas sumber (siapa penulisnya, apakah ada referensi, apakah situs/organisasi terpercaya).
Memahami tujuan konten (informatif, iklan, propaganda, hiburan).
Mengidentifikasi tanda-tanda hoaks: judul provokatif tanpa bukti, foto yang dipotong, tautan tanpa sumber, klaim luar biasa tanpa verifikasi.
3. Literasi media
Memahami bagaimana media menyampaikan pesan, teknik persuasi, framing berita, penggunaan gambar/video untuk mengubah persepsi, dan iklan terselubung (native ads).
4. Literasi keamanan siber
Meliputi:
Menjaga kata sandi kuat dan unik.
Mengaktifkan otentikasi dua faktor.
Mengenali phishing dan taktik rekayasa sosial.
Menjaga backup data dan perangkat lunak anti-malware.
5. Literasi hak cipta & etika penciptaan konten
Mengerti batasan penggunaan karya orang lain (hak cipta), penggunaan lisensi terbuka (Creative Commons), pentingnya memberi atribusi, dan cara membuat konten yang orisinal tanpa melanggar hak orang lain.
6. Literasi partisipasi digital
Kemampuan berpartisipasi dalam diskursus publik online: berdebat sehat, menyuarakan pendapat, berkampanye, atau berkolaborasi lewat platform digital secara bertanggung jawab.
Menjadi cakap bermedia digital berarti seseorang tidak hanya tahu cara menggunakan alat, tetapi juga mengapa dan dengan konsekuensi apa — sehingga keputusan yang diambil lebih bijak.
Toleransi dan Empati Berbudaya Digital
Ruang digital memampukan interaksi lintas negara, budaya, dan latar belakang. Karena itu, dua nilai kunci yang harus tumbuh bersama kecakapan teknis adalah toleransi dan empati.
Toleransi di Dunia Digital
Toleransi dalam konteks digital berarti menghormati hak orang lain untuk memiliki pandangan berbeda, memahami bahwa keragaman pendapat mungkin muncul, dan menolak melakukan diskriminasi berbasis SARA (suku, agama, ras, antar golongan). Bentuk konkret toleransi digital termasuk:
Menghindari penyebaran ujaran kebencian.
Menerima perbedaan gaya komunikasi (mis. penggunaan bahasa gaul vs formal).
Menghormati ruang komunitas yang memiliki aturan sendiri.
Menahan diri dari mengirimkan komentar yang memprovokasi.
Toleransi bukan berarti setuju dengan segala hal; melainkan memberi ruang untuk dialog yang konstruktif dan tidak melecehkan pihak lain. Di dunia digital, toleransi juga diuji oleh anonimity — ketika orang merasa tidak bertanggung jawab karena namanya tersembunyi, mereka kerap lebih agresif. Oleh karena itu, budaya platform dan pendidikan karakter digital sangat diperlukan.
Empati di Dunia Digital
Empati adalah kemampuan memahami dan merasakan posisi atau perasaan orang lain. Di ranah digital, empati menjadi penting karena komunikasi teks sering kehilangan nuansa (intonasi, ekspresi wajah), yang memudahkan miskomunikasi dan konflik. Cara menunjukkan empati di dunia digital:
Membaca konteks sebelum memberi komentar.
Menggunakan kata-kata yang menenangkan ketika membalas komentar emosional.
Menyadari bahwa di balik layar ada manusia dengan pengalaman tersendiri.
Memberi dukungan kepada korban cyberbullying atau pelecehan.
Menghindari meme atau candaan yang merendahkan kelompok tertentu.
Empati juga berarti memberi waktu dan ruang kepada orang lain untuk menjelaskan diri, menanyakan kabar sebelum menghakimi, serta memberi kritik yang membangun bukan menghancurkan.
Menjaga Rekam Jejak Digital (Digital Footprint)
Rekam jejak digital adalah jejak yang ditinggalkan seseorang ketika menggunakan layanan digital: postingan, komentar, foto, riwayat pencarian, interaksi, serta data yang dikumpulkan platform. Rekam jejak bersifat persisten (bisa bertahan lama), dan sering kali diakses oleh pihak lain — calon pemberi kerja, institusi pendidikan, keluarga, atau bahkan pelaku kriminal.
Mengapa rekam jejak penting?
Reputasi profesional dan pribadi: Posting yang tidak bijak bisa menghambat peluang kerja atau studi.
Keamanan: Data yang terlalu banyak dibagikan memudahkan penipuan, stalking, atau pencurian identitas.
Dampak psikologis: Konten lama bisa kembali muncul dan memicu masalah emosional.
Konsekuensi hukum: Beberapa konten bisa melanggar hukum (mis. ujaran kebencian, fitnah) dan berujung tindakan hukum.
Praktik menjaga rekam jejak
Selalu berpikir dua kali sebelum memposting: “Jika dilihat orang tua / bos / sekolah, apakah ini tetap pantas?”
Periksa pengaturan privasi di media sosial.
Hapus atau arsipkan konten lama yang tidak relevan atau bermasalah.
Gunakan nama dan foto profesional untuk akun yang berhubungan dengan karier.
Pisahkan akun pribadi dan profesional bila perlu.
Gunakan tools untuk memantau jejak publik (mis. pencarian nama sendiri secara berkala).
Tantangan dan Dampak Bila Tidak Cakap & Etis Bermedia Digital
Kegagalan menanamkan kecakapan dan etika bermedia digital berakibat luas:
1. Penyebaran misinformasi dan hoaks
Tanpa literasi informasi, pengguna mudah menyebarkan berita palsu yang memicu panik, diskriminasi, atau keputusan publik yang salah (mis. isu kesehatan, politik).
2. Cyberbullying dan stres psikologis
Komentar menyakitkan, pelecehan online, doxxing, dan kampanye fitnah bisa menyebabkan korban mengalami tekanan mental, bahkan bunuh diri. Grup remaja sangat rentan terhadap tekanan ini.
3. Pelanggaran privasi dan keamanan
Data pribadi yang bocor dapat disalahgunakan (penipuan, peretasan akun, pencurian identitas).
4. Kehilangan peluang profesional
Postingan tidak pantas bisa memutus peluang pekerjaan atau beasiswa.
5. Fragmentasi sosial
Algoritma yang mendorong konten polarizing dapat memperkuat echo chamber: orang hanya melihat sudut pandang yang memperkuat keyakinannya sendiri, sehingga toleransi menurun.
6. Dampak hukum
Beberapa negara (termasuk Indonesia) memiliki undang-undang yang mengatur tindakan di dunia maya; pelanggaran etika digital bisa berujung pada sanksi hukum.
Contoh Kasus Nyata (Ringkasan)
Untuk memperjelas, beberapa contoh tipe kasus yang sering ditemui:
Hoaks kesehatan — Di masa pandemi, informasi palsu tentang obat atau pengobatan menyebar cepat dan menghalangi tindakan pencegahan yang benar.
Cyberbullying selebritas / pelajar — Komentar memarah yang menjurus ke pelecehan menyebabkan korban depresi.
Doxxing — Data pribadi seseorang dibocorkan oleh kelompok yang tidak setuju dengan pendapatnya, berujung ancaman fisik.
Tweet/Posting lama yang muncul kembali — Mantan postingan seseorang dengan bahasa rasis muncul ketika orang itu melamar pekerjaan, menyebabkan reputasinya runtuh.
Penyalahgunaan foto tanpa izin — Foto pribadi diedit dan disebarkan tanpa persetujuan.
Dari kasus-kasus ini terlihat perlunya kombinasi tindakan: pendidikan, kebijakan platform yang efektif, regulasi hukum, dan kesadaran personal.
Strategi Pengembangan Cakap & Etis Bermedia Digital
Untuk membangun masyarakat digital yang sehat, beberapa strategi praktis bisa diterapkan oleh berbagai pihak:
Pendidikan formal & kurikulum
Memasukkan literasi digital dan etika digital ke dalam kurikulum sekolah mulai dari tingkat dasar. Materi dapat meliputi keamanan siber sederhana, cara mengenali hoaks, etika komunikasi online, dan pengelolaan identitas digital.
Pelatihan guru agar dapat menuntun siswa dalam praktik bermedia yang baik.
Pendidikan informal & keluarga
Orang tua harus menjadi model: memperlihatkan praktik berbagi yang aman, tidak menyebarkan hoaks, dan menunjukkan empati.
Diskusi keluarga tentang batasan berbagi data pribadi, dan penggunaan waktu layar yang sehat.
Peran platform dan perusahaan teknologi
Platform harus menyediakan fitur privasi yang jelas dan mudah dipahami.
Moderasi konten yang transparan dan adil, dengan mekanisme banding yang efektif.
Alat verifikasi fakta dan label konten yang menyesatkan.
Kebijakan publik & regulasi
Regulasi yang melindungi privasi pengguna, mencegah penyebaran ujaran kebencian, namun tetap menjaga kebebasan berpendapat.
Program literasi digital skala nasional untuk menjangkau masyarakat luas.
Kolaborasi multi-stakeholder
Pemerintah, sekolah, organisasi masyarakat sipil, dan platform harus berkolaborasi untuk kampanye literasi dan etika digital.
Rekomendasi Praktis: Checklist untuk Individu
Berikut daftar praktis yang bisa dipakai sehari-hari agar menjadi pengguna digital yang cakap dan etis:
Sebelum memposting, tanyakan:
Apakah konten ini benar? (cek fakta)
Apakah konten ini melanggar privasi seseorang?
Apakah saya menulis dengan sopan dan tidak merendahkan?
Periksa sumber informasi:
Cari sumber primer.
Bandingkan dengan sumber lain.
Cek apakah situs terpercaya (media besar, jurnal, institusi).
Amankan akun:
Gunakan kata sandi unik dan kuat.
Aktifkan otentikasi dua faktor.
Perbarui perangkat lunak secara berkala.
Atur privasi:
Batasi siapa yang bisa melihat postingan.
Periksa aplikasi pihak ketiga yang memiliki akses ke data akunmu.
Pahami hak cipta:
Jangan mengunduh atau memakai karya orang tanpa izin.
Berikan atribusi bila menggunakan karya berlisensi terbuka.
Berlatih empati:
Tanggapi komentar yang emosional dengan tenang.
Jangan ikut menyebarkan rumor atau menyerang pribadi.
Kelola waktu layar:
Tetapkan batas waktu untuk penggunaan media sosial.
Istirahat dari layar jika merasa stres.
Jaga rekam jejak:
Hapus konten lama yang bisa berbahaya.
Pertimbangkan membuat akun profesional terpisah.
Panduan untuk Guru & Orang Tua
Untuk guru:
Integrasikan tugas analisis sumber ke dalam pelajaran (mis. minta siswa membandingkan dua artikel dan memeriksa kredibilitas).
Ajarkan metode cek fakta sederhana: reverse image search, memeriksa tanggal, melihat dahulu profil penulis.
Latih diskusi kelas yang mengedepankan argumen berbasis bukti, bukan emosi.
Untuk orang tua:
Ajak anak bicara tentang pengalaman digitalnya; jangan semata memblokir.
Ajarkan privasi dasar sejak dini: tidak mengunggah data alamat, nomor telepon, atau foto yang bisa dimalafaatkan.
Jadilah teladan: tunjukkan cara menyikapi konten yang provokatif secara tenang.
Peran Institusi & Pemerintah
Negara berperan penting dalam menciptakan kerangka yang menyeimbangkan kebebasan berekspresi dan perlindungan terhadap bahaya digital. Beberapa langkah yang bisa ditempuh:
Menyusun kebijakan literasi digital nasional dan mendanai program pelatihan.
Mendorong standar privasi data yang kuat (mis. aturan tentang bagaimana data warga disimpan dan diproses).
Mengatur mekanisme transparan bagi platform untuk menangani konten berbahaya.
Membangun pusat verifikasi fakta yang didukung negara dan independen.
Menyediakan layanan bantuan bagi korban cyberbullying dan kejahatan digital.
Pemerintah harus berhati-hati agar regulasi tidak disalahgunakan untuk membungkam kritik atau aktivitas demokratis yang sah.
Tips De-Eskalasi dan Menjaga Diskusi Konstruktif
Saat terlibat perdebatan online, ikuti langkah-langkah ini agar diskusi tetap sehat:
Tarik napas dan baca kembali sebelum membalas.
Fokus pada argumen, bukan menyerang pribadi.
Gunakan bahasa sopan dan jelas.
Jika situasi memanas, tawarkan dialog privat atau jeda.
Kalau menemukan konten sangat berbahaya (ancaman fisik, pelecehan serius), lapor ke moderator atau pihak berwenang.
Kesimpulan
Menjadi cakap dan etis bermedia digital bukanlah tujuan instan; ia membutuhkan kombinasi keterampilan teknis, kemampuan analitis, kebiasaan budaya, serta nilai sosial—terutama toleransi dan empati. Peta konsep yang kamu kirim sudah menempatkan elemen-elemen penting pada tempatnya: aspek teknis (Bermedia Digital → Budaya & Cakap) dan aspek sosial-emosional (Toleransi, Empati, Rekam Jejak). Namun untuk menerapkannya di dunia nyata diperlukan usaha bersama: individu yang mau belajar dan bertanggung jawab, keluarga yang membimbing, sekolah yang mengajarkan, platform yang bertanggung jawab, dan kebijakan publik yang mendukung.
Praktik sehari-hari seperti memeriksa kebenaran informasi sebelum membagikan, mengatur privasi, menjaga bahasa yang santun, serta berpikir dua kali sebelum memposting dapat membuat perbedaan besar. Selain itu, membangun budaya empati dan toleransi mengurangi konflik, meningkatkan kualitas diskusi publik, dan menjaga martabat manusia di dunia maya. Di masa depan, ketika teknologi semakin canggih (AI, augmented reality, dsb.), kebutuhan akan kecakapan dan etika digital akan semakin mendesak — sehingga investasi pendidikan dan budaya digital sekarang adalah investasi untuk keberlangsungan masyarakat yang sehat dan inklusif.
woi ini keren banget, kok sepi sih blognya
ReplyDeleteIni adalah artikel yang sangat berguna & informatif
ReplyDeleteThis comment has been removed by the author.
ReplyDeleteThis comment has been removed by the author.
ReplyDeleteThis comment has been removed by the author.
ReplyDeletesaya mendapat banyak ilmu dari artikel ini
ReplyDeleteartikel ini bermanfaat sekali, keren!
ReplyDeletewow keren banget artikelnya, sangat bermanfaat!
ReplyDeletesgt informatif
ReplyDeleteartikel sangat bermafaat dan keren
ReplyDeleteBlog ini sangat informatif
ReplyDelete